Jika hari ini kita merasa ujian hidup begitu berat, mari sejenak menengok kisah Nabi Ayyub AS. Beliau adalah hamba Allah yang awalnya dikaruniai segalanya: harta melimpah, tanah luas, anak-anak yang banyak, dan kesehatan yang prima. Namun, Allah ingin mengangkat derajatnya melalui jalan ujian.
Satu per satu nikmat itu diambil. Hartanya habis terbakar, anak-anaknya wafat, dan beliau diuji dengan penyakit kulit yang parah hingga orang-orang menjauhinya. Istrinya yang setia pun sempat merasa lelah. Apakah Nabi Ayyub marah kepada Allah?
Tidak. Bibir beliau tak henti berdzikir. Ketika diminta berdoa untuk kesembuhan, beliau malah menjawab dengan penuh rasa malu, “Aku malu memohon kesembuhan, karena masa sehatku jauh lebih lama dibanding masa sakitku.”
Setelah bertahun-tahun dalam kesabaran yang tak bertepi, barulah beliau berdoa dengan sangat santun, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Anbiya ayat 83: (Anni massaniyad-durru wa anta arhamur-rahimin) — “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Allah pun mengabulkan doanya, mengembalikan kesehatannya, dan melipatgandakan harta serta keluarganya. Pelajaran bagi kita: Ujian bukanlah tanda Allah benci, melainkan cara Allah membersihkan dosa dan meninggikan derajat hamba-Nya yang bersabar.


